Minggu, 22 Maret 2015

Senandung Malam..

Benar-benar aku merasa seperti titik kecil samar yang tak terlihat secara kasat mata. Aku merasa seperti air di pinggiran mangkuk, ada namun terabaikan. Seperti akar pohon, yang berusaha menegakkan batang dan dahannya, namun tertanam di bawah tanah yang amat sangat jauh dari permukaan. Tak terlihat, tak tersentuh, terabaikan. Namun mengungkapkannya pun tak ada daya. Ingin merubahnya tak kuasa bertindak. Seakan aku hidup hanya seperti atom yang diketahui namun tak dapat diwujudkan.

Terkadang aku bercanda dengan khayalan yang masih jauh dari kenyataan. Menyapanya dan mencoba menyentuhnya dengan lembut. Seakan aku ingin bertemu secepatnya dengan khayalan itu. Ia telah menjadi sahabat pena sejak napas dan ruh merasuki tubuh. Namun sampai saat ini, ia belum datang jua. Tak sempat atau mungkin memang ia tak akan datang.

Jarum pada jam yang setia tergantung di dinding terus berdetak senada dengan jantungku. Detik, menit, dan jam aku lewati hanya untuk meneruskan hidup yang terlanjur aku jalani. Tak ada kata mengulang, jarum itu terus melaju sesuai kehendaknya, dan aku mengikuti dengan tergesa-gesa. Hingga aku jatuh dalam kesalahan yang mungkin tak dapat aku benarkan atau mungkin bisa, namun bukan sekarang, bukan saat ini, bukan di dunia ini.

Setiap detik oksigen aku hirup. Namun aku masih merasa kurang dan tidak mensyukuri napas itu, walau napas itu tidak akan bertamu setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik. Napas itu tak berharga dan aku kembali jatuh dalam sesal yang sedari dulu tak mengeluarkanku dari lingkaran hitamnya. Walau aku selalu mencoba, mencoba dan mencoba mencari celah kecil tak terlihat untuk keluar.

Nihil tak peduli lagi dengan keadaanku yang saat ini membutuhkan satu walau sedikit. Hasil peluh dan air mata yang terus menerus menetes seakan tak ada makna dan manfaatnya. Jarum pada jam di dinding selalu menganggap aku adalah seorang manusia yang mampu dan sanggup untuk melewati semua ini, namun nyatanya jarum itu membuat aku terjatuh dan jatuh terus hingga kakiku tak sanggup untuk menahan. Ia menusukku hingga perih terasa di lubuk yang paling dalam. Membuat lirih dalam hati, tak kuasa menahan pedih hingga sedih dan perih..

2 komentar: