Maret-April 2015.
Bulan-bulan
sebelumnya waktuku seakan sedikit sekali hingga tidak ada satu detikpun yang
bisa aku gunakan untuk bertemu dan bermain dengan sahabatku, Tina. Namun kali
ini aku meluangkan waktu untuk melepas rindu kepadanya sebelum aku melaksanakan
UTS. Seperti sudah bertahun-tahun aku tidak bertemu dengannya, hingga saat
bertemu seakan dunia hanya milik aku dan dia (ini berlebihan). Kami bercerita
ngulur ngidul satu sama yang lain. Sampai pada akhirnya dia bertanya tentang
aku dan Moni, sahabat yang sedang memiliki masalah denganku, “Han si Moni gimana di sekolah?”, “ngga gimana-gimana, dia barengan terus sama si Adi” jawabku
seadanya.
Awalnya hubungan
aku dengan Moni baik-baik saja, kami bersahabat sejak SMP. Namun semenjak masuk
SMA, Moni mengalami perubahan yang amat sangat drastis namun negatif. Salah
satunya dia lebih sering ‘berpacaran’ daripada belajar. Awalnya aku bisa
memaklumi mungkin karena dia baru merasakan ‘apa itu pacaran?’ dan merasa kalau
‘gue anak SMA’. Tapi semakin aku biarkan seperti itu, tingkah pacarannya
semakin aneh dan semakin ‘liar’. Aku sebagai sahabatnya mencoba untuk melarang
dia, namun yang terjadi dia hanya menganggapku sebagai angin lalu saja,
didengar dan dirasa namun tidak digubris. Masalah ini yang menjadi cikal bakal
dari masalah aku dengan Tina.
Selang beberapa
minggu setelah ‘jumpa kangen’ aku dengan Tina, ada masalah yang dikompori oleh
Moni. Tina yang selama ini menjadi ‘tempat netral’ malah berbalik menjadi ‘tempat
pembela’ bagi Moni. Bagi Tina, apa yang aku ceritakan kepadanya tentang Moni
itu bohong, aku dianggap ‘teman palsu’ dan tidak mendukung hubungan Moni dengan
Adi. Bagaimana aku mau mendukung kalau yang mereka lakukan itu dilarang oleh
agama? Apalagi hubungan mereka yang sudah berlebihan, sangat berlebihan. Memang
ini bukan urusanku, namun aku tersangkut dalam hubungan mereka karena Moni
adalah sahabatku.
Akhirnya tanpa
disangka dan dikira sebelumnya, persahabatanku dengan mereka hancur hanya
karena masalah sepele. Aku mencoba untuk biasa-biasa saja menghadapi masalah
ini, walau sebetulnya dalam hatiku ‘aku tidak kuat tanpa mereka’…
Akhir April aku
datang ke acara Mata Najwa on Stage
Universitas Indonesia. Ini adalah pengalaman baru untukku. Pertama kali aku
datang ke Balairung UI, ya, untuk siswa SMA yang jarang sekali keluar rumah,
ini adalah pengalaman luar biasa bagiku. Walau sebelumnya aku sudah pernah
datang ke UI dengan kakak kelasku untuk mengikuti seminar sastra Indonesia,
tapi kali ini aku benar-benar ‘parno’.
Saat itu suasana
balairung masih sepi, ya, aku datang pukul 9:00 WIB. Padahal acara dimulai
pukul 13:00 WIB. Sekitar balairung dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswa yang
mayoritas adalah mahasiswa UI. Namun
sepertinya hanya aku yang masih SMA di situ. Dan aku harus menunggu kurang
lebih tiga jam untuk dapat masuk ke balairungnya. Dan akhirnya, pukul 13:00,
aku diperbolehkan masuk ke balairung, namun acara baru dimulai pukul 14:00 WIB.
Benar-benar aku tidak sabar menanti acara ini untuk dimulai. Tidak lama
kemudian acara dimulai dan seorang Najwa Shihab pun masuk ke dalam gedung
balairung. Sontak para penonton bersorak melihat Najwa Shihab dengan mata
kepala sendiri. Namun yang menjadi luar biasa adalah ketika bisa melihat secara
langsung sosok tokoh terjenius milik Indonesia, yaitu Bacharudin Jusuf Habibie.
Acaranya
berlangsung dengan lancar dan sangat berkesan bagiku, amat berkesan. Karena
setiap kata-kata dari B.J Habibie menyentuh dan menyemangtiku untuk ‘fokus!’
dalam suatu bidang yang kita minati.
***