Rabu, 30 Desember 2015

Lima Belas Ribu pelangi (4)

Mei-Juni-Juli 2015
Bulan ke-5 di tahun 2015 ini sedikit terukir dengan cerita yang bisa ‘mencoreng’ nama salah satu perguruan tinggi di Indonesia, aku tidak mau menyebutkan karena bisa-bisa aku yang dianggap salah. Hanya saja aku berharap untuk kedepannya perbuatan seperti itu yang dilakukan oleh oknum tertentu dapat ditindak secara adil karena yang namanya ‘menipu’ itu tidak baik ^^
Tanggal 9 Mei merupakan tanggal yang sangat menegangkan bagi kakak-kakak kelasku, karena hari itu merupakan hari pengumuman SNMPTN. Orang pertama yang aku tanya adalah kak Putri Chollillah, kakak kelas yang dekat sekali denganku.
H: “kak Putri… gimana hasil SNM nya?”
P: “ih Han, jangan bikin suasana makin mencekam deh, belum jam 5 nih HAHAHA”
Tidak lama jam 5 pun terpampang di jam dinding, kembali aku sms kak Putri.
H: “kakak… gimana hasil nya?”
P: “aku ngga masuk Han. Harus dijadikan pelajaran ya kakak kelas banyak yang ngga lolos SNM, jangan lihat sekolahnya tapi lihat kamunya…”
‘banyak’? aku tidak percaya kalo banyak kakak kelas yang gagal lolos SNMPTN. Aku coba tanya kakak kelasku yang lain, kak Andre salah satunya. Aku tanya kepada dia namun jawabannya pun sama. Kak Naufal, kak Farhan, dan lain-lain yang aku kenal menjawab jawaban yang sama… mungkin belum rezekinya.

Bulan Juni, bulan terakhir di semester 4, dan semester ini ditutup dengan prakter seni teater. Drama yang ditampilkan adalah adaptasi dari sebuah cerita baik itu novel atau film. Kelompokku mengadaptasi dari film ‘Perahu Kertas’. Karena tugas praktek inilah aku jadi merasa kalau yang namanya seni teater itu tidak semudah yang dikira. Benar-benar butuh persiapan yang sangat matang dan kekompakan kelompok juga menjadi salah satu faktor utama berhasilnya performance ^^

Lima Belas Ribu Pelangi (3)

Maret-April 2015.
Bulan-bulan sebelumnya waktuku seakan sedikit sekali hingga tidak ada satu detikpun yang bisa aku gunakan untuk bertemu dan bermain dengan sahabatku, Tina. Namun kali ini aku meluangkan waktu untuk melepas rindu kepadanya sebelum aku melaksanakan UTS. Seperti sudah bertahun-tahun aku tidak bertemu dengannya, hingga saat bertemu seakan dunia hanya milik aku dan dia (ini berlebihan). Kami bercerita ngulur ngidul satu sama yang lain. Sampai pada akhirnya dia bertanya tentang aku dan Moni, sahabat yang sedang memiliki masalah denganku, “Han si Moni gimana di sekolah?”, “ngga gimana-gimana, dia barengan terus sama si Adi” jawabku seadanya.
Awalnya hubungan aku dengan Moni baik-baik saja, kami bersahabat sejak SMP. Namun semenjak masuk SMA, Moni mengalami perubahan yang amat sangat drastis namun negatif. Salah satunya dia lebih sering ‘berpacaran’ daripada belajar. Awalnya aku bisa memaklumi mungkin karena dia baru merasakan ‘apa itu pacaran?’ dan merasa kalau ‘gue anak SMA’. Tapi semakin aku biarkan seperti itu, tingkah pacarannya semakin aneh dan semakin ‘liar’. Aku sebagai sahabatnya mencoba untuk melarang dia, namun yang terjadi dia hanya menganggapku sebagai angin lalu saja, didengar dan dirasa namun tidak digubris. Masalah ini yang menjadi cikal bakal dari masalah aku dengan Tina.
Selang beberapa minggu setelah ‘jumpa kangen’ aku dengan Tina, ada masalah yang dikompori oleh Moni. Tina yang selama ini menjadi ‘tempat netral’ malah berbalik menjadi ‘tempat pembela’ bagi Moni. Bagi Tina, apa yang aku ceritakan kepadanya tentang Moni itu bohong, aku dianggap ‘teman palsu’ dan tidak mendukung hubungan Moni dengan Adi. Bagaimana aku mau mendukung kalau yang mereka lakukan itu dilarang oleh agama? Apalagi hubungan mereka yang sudah berlebihan, sangat berlebihan. Memang ini bukan urusanku, namun aku tersangkut dalam hubungan mereka karena Moni adalah sahabatku.
Akhirnya tanpa disangka dan dikira sebelumnya, persahabatanku dengan mereka hancur hanya karena masalah sepele. Aku mencoba untuk biasa-biasa saja menghadapi masalah ini, walau sebetulnya dalam hatiku ‘aku tidak kuat tanpa mereka’…
Akhir April aku datang ke acara Mata Najwa on Stage Universitas Indonesia. Ini adalah pengalaman baru untukku. Pertama kali aku datang ke Balairung UI, ya, untuk siswa SMA yang jarang sekali keluar rumah, ini adalah pengalaman luar biasa bagiku. Walau sebelumnya aku sudah pernah datang ke UI dengan kakak kelasku untuk mengikuti seminar sastra Indonesia, tapi kali ini aku benar-benar ‘parno’.
Saat itu suasana balairung masih sepi, ya, aku datang pukul 9:00 WIB. Padahal acara dimulai pukul 13:00 WIB. Sekitar balairung dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswa yang mayoritas adalah mahasiswa UI.  Namun sepertinya hanya aku yang masih SMA di situ. Dan aku harus menunggu kurang lebih tiga jam untuk dapat masuk ke balairungnya. Dan akhirnya, pukul 13:00, aku diperbolehkan masuk ke balairung, namun acara baru dimulai pukul 14:00 WIB. Benar-benar aku tidak sabar menanti acara ini untuk dimulai. Tidak lama kemudian acara dimulai dan seorang Najwa Shihab pun masuk ke dalam gedung balairung. Sontak para penonton bersorak melihat Najwa Shihab dengan mata kepala sendiri. Namun yang menjadi luar biasa adalah ketika bisa melihat secara langsung sosok tokoh terjenius milik Indonesia, yaitu Bacharudin Jusuf Habibie.
Acaranya berlangsung dengan lancar dan sangat berkesan bagiku, amat berkesan. Karena setiap kata-kata dari B.J Habibie menyentuh dan menyemangtiku untuk ‘fokus!’ dalam suatu bidang yang kita minati.

***

Lima Belas Ribu Pelangi (2)

Februari, 2015.
Bulan yang ditunggu-tunggu olehku. Bulan penentuan lolos atau tidaknya aku di ajang Olimpiade Sains Nasional 2015. Aku memilih bidang matematika, walau sebelumnya aku semangat sekali mengikuti olimpiade ini, tapi sayangnya H-7 sebelum hari lombanya, aku justru lagi malas-malasnya buat belajar matematika. Akhirnya aku mencari cara alternatif untuk belajar materi OSN ini, yaitu belajar dengan kakak kelasku yang pernah mengikuti OSN Matematika, kak Andreansyah. Tapi sepertinya aku sedang ‘dicoba’, kak Andre tidak bisa membantuku, Oh God…please help me…
Sampai pada hari H nya, aku sangat semangat. Semua rumus-rumus, konsep-konsep nya sudah nempel di otak. Pada saat upacara pembukaan, aku melihat siswa dari sekolah lain namun sepertinya aku kenal siapa dia. Dan benar, dia adalah teman SMPku, namanya Nia. Dia ada di barisan kelompok OSN Kimia. Setelah selesai upacara, aku menyempatkan untuk menghampirinya, “Nia? Ikut OSN apa?” tanyaku untuk basa basi, dia hanya menjawab “kimia” sudah dan aku diabaikan begitu saja. Aku sudah tidak peduli dan aku mencari di mana ruangan tempat aku lomba, tapi saat aku cari nama aku tidak ada dan ini membuat aku panik sepanik-paniknya. Hopelesslah, semangat yang awalnya benar-benar tinggi kini hilang seketika. Akhirnya dari panitia mengatakan kalau aku dan dua temanku yang tidak kebagian ruangan digabungkan dengan peserta lain yang ‘bernasib’ sama.
Saat pengisian soal, kalau boleh jujur perjuangan belajar kurang lebih empat bulan itu hilang seketika karena panik. Ya, sekedar mengingatkan saja kalau kalian mau ikut lomba jangan panik dulu karena panik itu bisa menghancurkan segalanya. Sesuai dengan yang ditanam yang dipetikpun pasti sama, aku tidak lolos OSN itu, dan teman-teman dari sekolah tidak ada satu pun yang lolos. Itu bukti dari solidaritas…

***

Lima Belas Ribu Pelangi (1)

1 Januari 2015, 00.00 WIB.
            Malam yang beratapkan bintang-bintang kini dihiasi dengan gemerlapnya warna kembang api dan mercon dari gedung-gedung bertingkat sekitar rumahku. Benar-benar menggetarkan hati suara-suara yang saling menyahut satu sama yang lain. Aku hanya kaku menatap indahnya mercon-mercon itu, warnanya yang beragam membawaku ke dalam memori 2014. Tahun itu air mataku bagaikan air terjun yang terus menerus jatuh tak ada hentinya. Seandainya aku boleh meminta dalam deru suara yang menggetarkan hati, aku ingin 2015 ini menjadi tahun yang menghapus air mataku …
            Hanya selang beberapa hari dari hari pergantian tahun, aku sudah memulai kegiatan belajar di sekolah. Semester 4 atau semester 2 kelas 11. Di dalam hati aku sudah tekankan kalau semester ini semangat belajarku harus lebih baik dari semester lalu, kurang lebih satu tahun lagi statusku yang hanya sebagai ‘siswa’ akan menjadi ‘mahasiswa’.
Namun semua itu hanya ekspetasi belaka, aku tergoda suasana SMA yang amat sangat indah. Malas, ngantuk, bosan, menghantu di kepalaku. “seandainya guru kimia ini tidak mengajar lagi di kelas ini, mungkin satu kelas bakal sujud syukur” pikirku saat melihat guru kimia ‘tercinta’ sedang mengomel karena nilai kimia teman-teman sekelasku tidak terlalu bagus, termasuk aku. Hanya bisa berandai-andai dan pikiranku tidak ada di kelas, sampai aku tersadar kalau guru itu menghampiri aku dan bertanya, “kamu nanti mau masuk kampus apa?” sontak aku agak sedikit terkejut saat mendengar itu. Bodohnya dengan percaya diri tinggi aku menjawab, “mau masuk teknik mesin ITB bu”, guru itu mengkerutkan dahinya dan langsung tersenyum, “ari kamu mah hoyong asup ka ITB tapi nilai kimia kamu teh meuni jarore pisan. Di ITB mah kudu rata-rata 88 keatas baru bisa masuk, nah kamu baraha rata-ratana?” aku speechless, jujur saja aku bukan anak ranking satu di kelas, tapi aku punya minat tinggi di bidang sains dan teknik. Dengan agak sedikit malu aku menjawab “hanya 80 bu, hehehe” guru itu langsung meninggalkanku tanpa sepatah katapun.
Masih di bulan yang sama, tepatnya tanggal 18 Januari. Di Bogor sedang ada festival jepang yang setiap tahunnya selalu ramai. Aku datang di hari kedua festival itu dengan temanku, Thesya, Evant, Icha, dan Helmi. Bagiku festival ini akan menjadi hiburan untukku, sebelum aku benar-benar memfokuskan diri untuk belajar. Tapi pada kenyataannya, aku bertemu dengan seseorang yang membuat 2014 yang lalu menjadi kelabu, Qudrat dan pacarnya. Sedikit cerita, aku dan Qudrat punya masa lalu yang sama, kami satu SMP dan pernah memiliki hubungan. Namun hubungan itu tidak lama, salahnya di aku karena aku yang memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan dengan dia. Setelah dua tahun putus, aku yang masih ‘punya rasa’ sama dia dikejutkan dengan kabar bahwa dia sudah punya pacar baru padahal saat itu aku dan dia sedang ‘PDKT (lagi)’. Hancur semua, makanya 2014 menjadi kelabu, tapi di festival ini aku malah ketemu sama dia. Awalnya sih agak kurang nyaman, namun aku bawa santai saja, “festival ini ‘kan buat semua, bukan cuma buat lu Han. Slowkeun nyantai aja” gumamku.

***

Senin, 03 Agustus 2015

GREEN FLASH: CHAPTER 3

Mentari menemani perjalanan Juri menuju sekolah. Dengan semangat penuh ia melangkah. Angin pagi menyapanya dengan ramah. Senyum di bibirnya terukir dengan indah.
Pagi itu di sekolah hanya ada kegiatan classmeeting. Juri hanya duduk-duduk santai sendiri. Tak lama ia menikmatinya, Zakuri menghampiri dan menyapa Juri, “hai Juri, sendiri aja?” dengan hangat Juri menjawabnya, “hai, iya nih hehe kamu juga sendiri aja? Lihat Haruna ngga?”. Zakuri sangat antusias menjawab pertanyaan Juri yang member harapan bahwa Zakuri telah atau melihat Haruna, “Haruna ada di kantin. Yuk aku temani ke sana”. Juri sangat beruntung ternyata Haruna sudah berada di sekolah.
Tiba di kantin, Juri melihat ada siswi yang sendirian duduk dipojokan kantin. Siswi itu mirip Haruna, namun jika memang itu Haruna, mengapa ia tidak memakai kacamata? Juri menghampiri siswi itu, semakin dekat semakin jelas siapa gerangan. Ternyata itu benar Haruna! Juri terkejut melihat penampilan Haruna yang tidak seperti biasanya, “Haruna?” tanya Juri ragu dan terkejut, “hai Juri! Ya ampun dari tadi aku nungguin kamu. Kamu abis dari mana?” tanya Haruna, ya memang ia Haruna, Haruna yang ceria dan penuh semangat. Namun mengapa ia tampil beda? Biasanya ia berkacamata, rambutnya diikat ponytail, dan Haruna yang Juri kini sangatlah berbeda, “ hm aku tadi di depan. Kamu ko beda banget penampilannya?” tanya Juri agak canggung karena memang kurang sopan, “oh hehe ngga apa-apa ko hehe eh iya Zakuri, Juri, mau main ke rumah aku ngga? Ayo dong kita main” pinta Haruna penuh harap, “kalo aku mau mau aja, gimana nih Juri? Mau ikut ngga?” tanya Zakuri. “ya, ok deh aku ikut” jawab Juri, “yaudah kita berangkat sekarang aja yuk, lagian classmeet nya juga cuma begitu-begitu aja” ajak Haruna. “ok”
Selama perjalanan ke rumah Haruna tidak ada yang mengganjal sedikit pun. Mereka bertiga saling bercanda satu sama lain, menikmati betapa indahnya hari di bawah sinar mentari. Namun tiba-tiba Haruna menanyakan masalah Akihito kepada Juri, “Juri, bagaimana kamu dengan Akihito?”, “ngga gimana-gimana?” jawab Juri singkat, “ah masa sih? Kamu sama dia udah mulai pdkt?” desak Haruna kepada Juri. Dalam hati Juri merasa aneh dengan tingkah Haruna, tidak seperti biasanya, atau hanya perasaan Juri saja? “kamu ko pengen tau banget sih? Haha” ledek Juri yang sebetulnya ingin menghentikan pertanyaan Haruna, “ya jelas dong, aku kan sahabat kamu, masa aku ngga boleh tau tentang kamu sih? Hehe” ya itu jawaban yang diplomatis. Masih dengan perasaan yang mengganjal, mereka sampai di rumah Haruna.
Rumah Haruna bersih dan barang-barangnya serba mewah, berbeda dengan Juri yang sangat sederhana. Zakuri pun merasa bahwa Haruna sangat beruntung memiliki rumah yang mewah, “ayo temen-temen masuk” ajak Haruna kepada Juri dan Zakuri. Mereka mengikuti Haruna dan duduk di ruang tamu. Tak lama, ibu Haruna datang dan menyapa mereka dengan dingin, “ini siapa? Temen nya Haruna? Tunggu ya bentar, Haruna nya lagi cuci muka dulu”. Sebenarnya sudah lama Juri bersahabat dengan Haruna, namun baru kali ini dia mengetahui sosok keluarga sahabatnya itu. Amat sangat berbeda dengan sosok Haruna yang ramah kepadanya. Juri dan Zakuri hanya berdiam diri dan seperti tidak dianggap di rumah itu, seperti orang asing. Tak lama Haruna datang, “aduh maaf ya lama, tadi bersihin muka dulu, ‘kan kotor ya tadi di jalan? Hehe”, “kamu perawatan ya? Rajin amat?” tanya Zakuri polos, “engga ko engga hehe” tiba-tiba ibu Haruna memotong pembicaraan, “ka, mama sama Haruka mau belanja dulu ya, kalo mau makan ada tuh di dapur”, “ oh iya ma, hati-hati” cepat ibu Haruna pergi, tanpa sedikit pun menyapa Juri dan Zakuri. “kalian, makan dulu yuk”, “ok” jawab Juri dan Zakuri bersamaan.
Di meja makan, Haruna memberikan banyak nasi di piring Juri dan Zakuri, tapi dia hanya memakan lauk nya saja, “kamu makan ngga pake nasi nya?” lagi-lagi Zakuri bertanya dengan polos, “ ngga ah udah kenyang hehe”. Selesai makan, Zakuri izin ke toilet. Juri dan Haruna duduk di ruang tengah, “eh kamu, ceritain dong sama Akihito gimana?” tiba-tiba Haruna bertanya pertanyaan itu lagi, “aku kan udah bilang ngga gimana-gimana, aku ngga pdkt, aku ngga deket sama dia, udah gitu aja. Lagian aku cuman suka gitu aja ko sama dia, ngga lebih, ngga kaya ke Kennichi” jawab Juri kesal dan terpaksa kembali mengingat Kennichi, “udah Kennichi lupain aja, deketin dong Akihito nya”, “ngga usah deh” jawab Juri singkat. “Haruna, kamu punya pembalut ngga? Aku dapet nih”, “oh ada ko, ayo sini ke kamar aku” mereka berdua pergi ke kamar Haruna, meninggalkan Juri sendiri dengan bayangan Kennichi yang kembali ke pikirannya.

Tak lama Haruna keluar dari kamarnya dan meminta izin untuk ke luar sebentar, entah apa yang ia lakukan. Namun dengan terkejut Juri melihat Zakuri di belakangnya dan langsung menarik Juri masuk ke kamar Haruna, “Juri lihat, ini maksudnya apa?” Zakuri menunjuk tulisan di kalender di kamar Haruna. Tulisan tersebut sangat mengejutkan Juri, membuat ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat, “Haruna and Akihito will be a perfect couple? Maksudnya apa Zakuri?” tanya juri penuh emosi, “aku ngga tau, jujur aku sendiri kaget” oh ini yang membuat Haruna penasaran dengan kedekatan Juri dan Akihito, ternyata ia juga menyukai Akihito. Mengapa Haruna tidak jujur kepada Juri? Mengapa ia sangat mendukung Juri untuk dekat Akihito? Apakah ia benar-benar sahabat? Juri belum bisa memastikan semua ini…
to be continue

GREEN FLASH: chapter 2

“Haruna..” sapa Juri kepada Haruna. Kala itu suasana kelas amat sangat ramai, sehingga suara Juri tidak terdengat oleh Haruna. “Haruna!” panggil Juri. “eh iya? Eh Juri, sorry aku ngga denger” jawab Haruna gagap “iya gapapa ko. Oh iya aku ganggu ngga?” tanya Juri malu. “ngga ko, kenapa?” dengan malu-malu Juri mengungkapkan keinginannya untuk mencurahkan isi hatinya kepada Haruna. Karena bagi Juri, Haruna merupakan salah satu sahabat terbaik miliknya. Sahabat yang paling dipercaya olehnya. Hampir semua curahan hati Juri ditumpahkan kepada Haruna. Dan Juri sudah menganggap haruna sebagai saudaranya sendiri.
“kamu mau cerita apa? Kennichi-kun ya?” tebak Haruna. “ayo cerita, cerita, cerita. Ada apa sama kennichi-kun? Sesuatu telah terjadikah? Atau kamu balikan sama dia?” Haruna sangat penasaran. Namun Juri masih ragu untuk menceritakan semuanya kepada Haruna, entahlah rasanya baru kali ini dia ragu dengan sahabatnya itu. “hm engga, bukan kennichi ko” jawab Juri memulai perbincangan. “siapa? Someone baru ya? Ciee siapa?” pertanyaan Haruna benar-benar mendesak Juri, apa yang harus ia perbuat pun ia tak tahu. Melanjutkan cerita atau mengakhiri saja? “kamu tahu Akihito kan? Temen sekelas kamu itu” Juri semakin ragu, ia dilema sendiri dengan perasaannya “tahu ko tahu, kenapa? Kamu suka bukan sama dia?” Haruna bertanya dengan wajah yang kaget dan intonasi pertanyaan yang agak sinis. “hm aku juga ngga tahu” jawab Juri mengelak “ciee kamu pasti suka sama dia. Dia baik ko Ri, cocok buat kamu. Ayo move on dari kennichi” pernyataan Haruna itu semakin membuat Juri ragu dan merasa bodoh karena sudah bercerita kepada Haruna, seharusnya ini tidak terjadi.
Tiba-tiba Yui datang dan ikut berkumpul dengan Haruna dan Juri “hai kalian lagi ngomongin apa? Serius amat?” “Yui kamu harus tahu, temen kita kan udah punya someone baru, tuh Juri sama Akihito” ledek Haruna sambil melirik jail namun sinis ke Juri. Apa maksud semua ini? Juri benar-benar tidak tahu dan benar-benar terisolasi dengan kondisi seperti ini. “iya? Cie udah move on” ledek Yui. Ledekan mereka amat mengganggu Juri, ia merasakan sesuatu yang mengganjal dari sahabat nya yang satu itu. Ia merasa telah kehilangan kepercayaan nya, tapi ia tidak boleh memanjakan  perasaan itu, mungkin hanya sekedar bisikan setan saja…
To be continue


Selasa, 30 Juni 2015

GREEN FLASH: chapter 1

            Kala itu kita masih mengenakan seragam putih biru, ya, seragam itu melekat di tubuh kita dengan rapih. Dan kala itu pun waktu berjalan seirama dengan rotasi bumi dan matahari. Detik demi detik pun terlewati, hingga berganti menjadi menit, jam, hari, minggu, dan bulan…
“Dia sedang apa ya?”
Gumam Juri dalam hatinya. Tak sadar ia telah melamun 20 menit lamanya, memikirkan apa yang seharusnya tidak ia pikirkan. Jauh sudah ia hanyut dalam kisah cinta yang tak kunjung bermuara. Ia jatuh ke dalam pelukan seorang pria yang tak sempat mengatakan cinta kepadanya. Ia mencoba bersabar hingga waktunya tiba. Hingga ia tak tahu kemana jalan untuk kembali ke rumahnya.
“hai Juri!” sapa salah seorang dari kejauhan. “oh, Haruna?” Juri agak kaku menjawab sapaan Haruna. “kamu lagi ngapain? Ayo sini ngumpul sama anak-anak yang lain” ajak Haruna kepada Juri yang sejak tadi menyembunyikan dirinya dari keramaian.
Juri merupakan siswi sekolah menengah pertama yang amat sangat ceria. Rasanya senyum dan tawa tak pernah menjauh dari wajahnya. Dia memiliki para sahabat yang senantiasa ada untuknya dan dia ada untuk mereka. Persahabatan mereka berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Ia amat beruntung bisa memiliki sahabat seperti Haruna, Yui, Amina, Rena dan Rino.
“hai kalian!” sapa Haruna kepada teman-teman yang lain. “hai, abis dari mana kalian?” tanya Yui. “dari kelasnya Juri. Ri kamu kenapa? Ko dari tadi diem aja?” tanya Haruna. “hm, engga apa-apa ko, engga apa-apa” jawab Juri mengelak. Tapi sebenarnya ada yang mengganjal di dalam hatinya. Hanya saja ia tidak berani menceritakan kepada sahabat-sahabatnya itu. “ehem, pasti kennichi lagi ya? Gimana mau move on Ri? Masih dipikirin aja cowo itu? Haha dasar” tanya sembarang Rena kepada Juri yang sebetulnya Juri mau menjawab ‘YA’ atas pertanyaan itu, namun ia tidak mengindahkan semua itu.
Mereka semua saling bercanda satu sama yang lain. Rasanya semua masalah yang ada di pikiran Juri hilang karena hadirnya para sahabatnya. Rasanya momen ini tak ingin ia tinggalkan begitu saja, ingin selamanya ia bersama mereka, bersama saling mendukung satu sama yang lain. Hingga mereka larut dalam waktu dan hanyut dalam tawa…

To be continue.