Aku merasa kakiku tak menapak bumi. Ragaku pun terasa berat ketika ingin bangkit. Mataku hanya menatap pada satu titik. Kosong. Pikiranku melayang-layang entah kemana. tak karuan, tak jelas apa yang sedang aku pikirkan. Pikiran itu datang dan pergi di benak ku. kadang ia berganti dengan pikiran yang lain. yang membuat aku semakin bingung.
Berada di posisi 'serba salah' ini sebetulnya tidak menyenangkan. Tidak bebas melakukan apapun, ya, mungkin karena pikiran sedang buntu. Ide-ide pun seakan terhenti saat pikiran itu masuk dalam benak. Seakan hati dan otak tidak bisa di satukan, jika dalam kondisi dilema.
Mungkin aku memang salah, kepada si A aku ramah, namun kepada si B aku agak sedikit dingin. Tidak adil! Namun aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya ingin 'netral' tapi aku masih kurang percaya akan hal itu. Aku coba membuang pikiran-pikiran negatif yang selalu masuk dalam benakku. Hanya untuk mendinginkan suasana dan kepalaku yang semakin berat dengan pikiran itu.
Aku paksa badan ini untuk bangkit. Kupikir jika aku pergi sebentar keluar, mungkin aku agak tenang. Namun saat kaki ini melangkah, aku mendengar kembali suara-suara yang membuat hatiku tersayat. Sakit.. Aku coba pergi dari tempat itu, aku coba cari ketenangan itu. Aku berusaha.
Ketika di jalan, matahari sudah ada di atas kepalaku. Panas. Namun aku terus berjalan hingga aku tak tahu aku sudah berada dimana? Aku beristirahat sejenak. Tak kusangka saat aku duduk di bawah pohon dan ditemani oleh angin, aku melihat seorang bapak tua yang berjalan dengan susah payah membawa dagangannya. Tak memakai alas kaki, ia terus berjalan. Tidak ada kata letih baginya, walau peluh sudah membasahi seluruh tubuhnya. Dengan ramah dan senyum ia jajaki dagangannya.
Aku lanjutkan perjalananku, belum sampai aku ke tempat yang menurutku bisa membuat aku menjadi tenang. Di jalan aku memdapatkan pelajaran lagi. seorang ibu yang belum terlalu tua, sedang berjualan seperti bapak yang kutemui sebelumnya. Namun, ibu ini membawa nampan dengan satu kue di atasnya. Dagangannya tinggal satu. Ia coba tawari kepada orang-orang yang berada di sekitarnya, namun tak ada satu diantara mereka yang membeli. Kukira ibu itu akan menggurutu, namun ia hanya tersenyum dan terus berusaha menawari kue nya yang tinggal satu itu.
Akhirnya aku sampai di tempat yang kutuju. Tenang.. Damai.. Jauh dari keramaian orang-orang. Kutarik nafasku dalam-dalam, menghirup udara segar yang dapat menenangkan jiwa dan pikiran. Kubuang semua pikiran-pikiran negatifku. Kulepaskan beban 'aaarrgghhh!!' teriakku. Tak ada seorangpun yang melihat dan mendengar, hanya ada aku. Sendiri memang, tapi ini lebih baik daripada aku berada di keramaian, namun sepi yang aku rasa.
Aku diam sejenak. Selama ini aku pikir hanya akulah yang memiliki masalah besar dan tak dapat terselesaikan. Aku tidak bisa menerima semua ini dengan lapang dada dan kesabaran, aku terlalu lemah. Kuingat-ingat kembali apa yang tadi aku lihat di jalan. Dari bapak tua itu dan ibu tukang kue. Ternyata ada yang lebih daripada aku, tapi mereka yang justru lebih sulit bisa melewatinya dengan sabar, lapang dada, dan ikhlas. Seakan semangat hidup mereka tak pernah mati, mereka melakukan apapun bukan karena apa-apa, tetapi karena mereka ikhlas dan mau berkerja keras. Akhirnya aku simpulkan bahwa ''aku pasti bisa seperti mereka'' dan kubulatkan tekad itu dalam hatiku.
Kini aku sudah mulai agak tenang. Sekarang aku putuskan untuk melakukan hal yang lebih baik lagi dan apapun yang aku lakukan, harus didasari dengan keikhlasan.. Kuyakin, aku bisa seperti mereka, yang tak kenal kata letih dan terus bersemangat untuk menggapai impiannya.
JK.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar