Rabu, 26 November 2014

Di Balik Sebuah Lukisan.



Masih teringat senyuman pertama yang dia berikan padaku saat seragam putih biru masih melekat di tubuh. Bibirnya melengkung dengan manis saat bertatapan denganku. Aku hanya terpaku pada wajah yang baru kulihat saat pertama aku mengenakan seragam itu. Matanya indah sinarkan ketulusan. Santunnya ia menambah keindahan itu. Oh, siapakah gerangan ia? Masih samar di mataku, masih asing di telingaku, masih jauh dari kata mengenal.
                Aku masih belum mengenal siapa pria bermata indah itu. Walau rasa penasaran itu muncul, tapi tidak ada rasa peduli untuk mencarinya. Tiap hari aku dan dia bertemu di kantin sekolah. Ingin menyapanya, namun lidahkun kelu saat ingin mengucap kata. Ingin Tanya namanya, tak bisa kuucap. Sekali lagi hanya senyum yang kuberi, walau tak semanis senyuman pria itu.
                Hari demi hari, bulan demi bulan aku jalani di sekolah baruku. Masih belum mengenal siapa pria itu. Bertemu dengannya pun sudah jarang malah tak sama sekali. Entah ia kemana? Aku tidak begitu peduli. Ya, mungkin karena aku tak mengenalnya. Bahkan aku lupa wajahnya, yang kuingat hanyalah mata dan senyumnya yang manis. Senyuman yang tiba-tiba datang, dan tiba-tiba hilang.
                Sekitar sebelas bulan aku mengenakan seragam itu. Dan selang sebelas bulan juga aku melihat senyuman seorang pria yang sangat manis. Tanpa disadari, saat aku mengikuti seleksi pengurus OSIS, aku bertemu lagi dengan pria itu. Masih seperti dulu, senyumannya masih manis, matanya masih indah. Dia duduk di belakangku. Dia hanya diam tak banyak bicara. Aku pun memulai pembicaraan  “hai, dari berapa?” tanyaku ,“dari 8A” ia menjawab dengan suara yang begitu khas. Ternyata pria itu seniorku. Aku diam-diam mempehatikan bet namanya yang menempel di seragam, namanya Rafael. Setelah sebelas bulan baru aku mengetahui namanya.
Seminggu setelah aku mengetahui nama pria bermata indah itu. Nama-nama pengurus OSIS baru pun diumumkan. Namaku dan namanya tercantum pada kertas pengumuman itu, aku bahagia! Tiba-tiba terdengar suara pria belakangku “wah, gw masuk!” spontan aku melihat siapa yang sedang berdiri di belakangku,
“eh, ka?” sapaku singkat
“eh, de, eh kamu lolos OSIS ngga?” tanyanya.
“aku lolos kok ka”
“oh ya, nama kamu siapa sih?”
“aku Hana ka, kelas 7D”
“oh Hana, salam kenal ya, hehe”
Perkenalanku dengan pria itu memulai cerita yang awalnya tak kusangka-sangka.
Makin hari makin akrab antara aku dan dia. Setiap hari kami berhubungan melalui sms. Panggilannya padaku lain dari teman-temanku yang sering memanggilku ‘na’ ketimbang ‘han’. Mungkin sudah hukum alamnya jika seorang wanita akan jatuh cinta pada pria yang selalu ada untuknya. Akhirnya hukum alam itu merasuki tubuhku, membuatku tak sadarkan diri sehingga aku jatuh jauh ke dalam cinta nya Rafael.
Pendekatanku dengan Rafael berjalan dengan sangat indah. Aku merasa nyaman ketika aku sedang berdua dengannya. Seakan memiliki seorang ‘kakak’ lelaki yang senantiasa melindungi walau tak bisa sering bersama. Tapi, entah mengapa , aku menjadi ragu dengan sikap Rafael, mengapa begini? Apa aku hanya dianggap adik? Tapi dari situ dapat aku simpulkan, bahwa Rafael adalah sosok kakak yang baik dan menyayangi adiknya. Setiap aku ditimpa masalah, Rafael pasti menyemangatiku dan memberiku nasihat. Sungguh sosok yang hampir sempurna di mataku.
Tak seperti biasanya, kali ini Rafael mengajakku pulang bersamanya “han, mau pulang ngga?” aku sontak terkejut mendengar tawaran dari Rafael, “hm, mungkin aku pulangnya agak sore ka, aku mau bareng sama teman” jawabku “oh yaudah, hati-hati ya Han” aku hanya melihat bagian belakang tubuh Rafael, tegak, atletis, tinggi, sempurna. Tak sadar ternyata Rafael telah menghilang dari pandanganku. Aku menghampiri temanku, dengan malu aku ceritakan padanya tentang hal tadi, “ih na, kenapa lu ngga barenga sama ka Rafael aja? Cie kaya nya bakal ada babak baru nih” ledek temanku. “apa sih Nia, dia Cuma basa-basi aja ko” jawabku menutup rasa bahagia campur malu.
Tiga haris setelah kejadian itu.  Benar kata Nia, ada babak baru, tepat salah tanggal tertentu di bulan november, aku dan Rafael memulai hari baru, dengan status baru. Rasa sayangku padanya ternyata dirasakan juga oleh Rafael. Dia membalas rasa itu dengan menjadikanku sebagai kekasih hatinya. Hari itu sungguh menjadi hari yang tak akan pernah kulupakan seumur hidupku, terutama seorang Rafael, kekasih sejatiku.
Kini hari-hari yang silih berganti aku lewati bersama Rafael yang sudah berganti status sebagai kekasihku. Setiap hari aku dan dia pulang bersama, sms, bahkan selalu bertemu dalam mimpi. Sebulan pertama kami berpacaran masih sangatlah indah, namun badai itu datang saat aku sedang sangat cinta pada Rafael.
Jalan dua bulan, hubunganku dengan Rafael merenggang, memang salahku yang terlalu protek, namun aku lakukan itu karena aku sayang padanya. Tapi sepertinya Rafael salah memahami apa yang kumaksud. Sehingga cintaku digantung olehnya. Sakit! Dan rasa sakit ini kunikmati selama dua bulan.
Mungkin memang aku dan Rafael tidak boleh bersatu lagi, akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri kisah cintaku dengannya, walau hati ini masih belum sepenuhnya ikhlas.
Hari-hari setelah berakhirnya kisah itu berbeda dari sebelumnya. Tanpa Rafael, tanpa segalanya. Sepi, aku rasa sepi. Aku rasa malas, aku sedih, aku rasa lemah, aku rasa galau. Benar-benar sebuah transisi kehidupan yang sangat drastis. Aku butuh Rafael saat itu, tapi Rafael telah pergi jauh dari kehidupanku.
Aku mencoba bangkit dan berusaha melupakan Rafael, berusaha keluar dari kesedihan yang telah menepurukkanku hingga aku jatuh kedalam lubang yang gelap. Aku terus berusaha untuk bangkit. Namun ternyata banyak masalah yang menghalangiku untuk sampai ke atas. Sehingga di lubuk hatiku yang paling dalam, aku berkata “aku butuh kamu saat ini,Fa, aku butuh kamu!”
Kembali lagi nama Rafael masuk dalam pikiranku. Selalu dan selalu nama pria itu terpikir olehku. Mata dan senyumannya terbayang kembali, aku rindu padanya. Kenangan bersamanya selalu masuk kedalam benakku, saat-saat bersamanya, semua tentang dia. Seakan kenangan itu telah paten melekat dipikiranku, tak dapat dihapus sampai kapanpun.
**
Tidak terasa, sudah satu tahun aku melewati masa-masa sulit, masa-masa melupakan Rafa, masa-masa mencoba keluar dan menghapus semua kenangan bersama Rafael. Tak dirasa aku harus mengganti seragama putih biruku dengan putih abu. Kurang lebih dua tahun aku mengenal seorang Rafael. Tapi nama pria dengan senyumannya yang indah itu masih melekat di hati. Entah apa yang membuatku seperti ini, aku terus membayangkan wajahnya saat mengenakan seragam putih abu, aku rindu padanya.
Aku agak sedikit nekat untuk mendaftar ke SMA yang sama dengan Rafael. Tetapi ternyata, aku masuk dan aku menjadi siswa barus di SMA itu.
Hari pertama aku bertemu dengan Rafael. Aku terkejut, dia masih seperti dulu, tidak ada yang berbeda dengan Rafael, masih seperti dulu. Dia menyapaku saat pulang sekolah dengan suaranya yang masih terngiang-ngiang di telingaku
“Han!”
“hai , ka”
“cie masuk SMA 8, kelas berapa?”
“X-4 ka”
“oh masuk ekskul apa?”
“aku masuk PMR ka”
“ih Han amah PMR mulu, haha”
“hehe yaudah aku pulang duluan ya ka”
“iya hati-hati ya, Han”
Masih seperti dulu, masih..
Aku tak tahu mengapa aku menjadi lebih cemburu disbanding saat aku masih memakai seragam putih biru. Melihat Rafael bersama temannya saja rasa itu langsung merasuki tubuhku. Sampai-sampai aku menangis hanya karena aku mendengar kalau Rafa sedang menyukai seseorang. Padahal Rafael bukan siapa-siapaku lagi. Aneh, apa karena aku masih sayang padanya? Aku pun masih belum bisa menafsirkannya.
Sekitar empat bulan setelah seragam putih abu melekat, aku dan Rafael kembali dekat seperti dulu. Seakan aku dibawa ke masa lalu oleh Rafael, masa-masa indah saat kami berpacaran, walau hanya sehari dan setelah itu hilang lagi, kembali lagi, hingga akhirnya benar-benar hilang dalam hidupku.
Lima bulan setelah aku dan Rafael kembali dekat, aku mendengar kabar bahwa Rafael telah memiliki kekasih baru. Aku terkejut! Seakan hati ini hancur berkeping-keping hingga tak berbentuk. Ragaku benar-benar tak berdaya saat itu. Seakan tersambar halilintar, aku pun menyadari ternyata Rafa yang selama ini masih aku harapkan telah berpaling ke hati orang lain.
Memang bodohnya aku yang mengharapkan orang yang tidak mengharapkanku! Menunggu orang yang tidak menungguku! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Kemana saja aku selama ini? Dua tahun aku buang dengan sia-sia, dengan hasil yang nihil, dengan hasil hatiku kembali hancur! Sulit aku merakit hati yang telah yang hancur dua tahun silam, tapi kini hati itu kembali hancur. Harus berapa lama lagi waktu yang kuhabiskan untuk bangkit? Berapa lama? Aku terus menyemangati diriku sendiri, demi hati ini cepat sembuh dari penyakit lama. aku terus berusaha..
**
Empat bulan setelah Rafael berganti status dan hidup orang baru di hatinya. Dan pada hari itu pun aku memulai hari baru di kelas 2. Dengan semangat yang masih membara, aku tekadkan untuk ‘move on’ dari Rafael. Tapi ternyata, sebelum aku benar-benar melupakannya, aku masih diberi kesempatan untuk menikmati jalan barsama Rafael lagi. Setelah dua tahun hubungan kami putus, barulah aku dan dia jalan bersama lagi. Canggung. Ya, wajar memang aku rasa canggung, jalan dengan kekasih orang, ya itu judulnya.
Saat itu yang aku rasa amatlah aneh, rasa canggung dan puas pun seakan beradu dalam hati. Tidak bermoral kupikir, namun sisi lain aku bersyukur bisa merasakan hal itu kembali walau hanya sesaat, sebentar dan tak terulang lagi dalam hidupku.
Namun kali ini aku harus benar-benar keluar dari lingkaran masa laluku yang telah lama menjeratku dalam kesedihan.
Selama ini aku hanya membuang-buang waktu saja, menikmati kesedihan, menjauhkan kebahagiaan. Seakan hidup ini indah dengan kesedihan, dan merana dengan kebahagiaan. Semua yang wajar, semua yang rasional, seakan tidak sejalan dengan semestinya. Semua menjadi irrasional.
**
Tiga tahun lamanya aku mengenal seorang Rafael. Baik buruk, senang sedih, suka duka, aku alami dan aku lewati bersama Rafael yang selalu ada di pikiran dan hatiku. Namun, kini aku benar-benar pergi dan keluar dari kehidupan lawasku. Semua ini aku lakukan demi kebaikanku juga. Aku tidak mau begini terus! Aku harus bangkit dan aku harus maju!
**
Beberapa hari sebelum tanggal itu terulang untuk yang ke-3 kalinya. Saat ini kotaku dibahasi oleh air hujan. Dingin, ditambah aku hanya sendiri dalam angkutan umum. Jalanan dekat sekolahku sedang macet-macetnya, entah apa yang membuat jalan ini macet, tidak seperti biasanya. Aku yang mulai jenuh pun melihat ke luar angkutan. Tiba-tiba aku melihat ada dua orang siswa SMA yang sedang melintas, bercanda satu sama yang lain, entah itu si pria mau si wanita, mereka begitu mesra. Terus aku pandangi sampai akhirnya aku tersadar bahwa itu adalah Rafael dengan kekasihnya. Aku terkejut walau yang kulihat adalah nyata. Seperti ditunjukan oleh Tuhan, aku melihat siapakah kekasih Rafael sebelum aku benar-benar menjauh dan pergi dari kehidupannya, masa lalu aku dan dia.
Sehari sebelum tanggal 21 yang ke-36, aku bertemu Rafael di dekat ruang guru. Aku menyapanya ‘’hai Fa!’’ dia menyapaku ‘’hai Han’’ hanya seperti itu, tak lebih lagi.
November 20**, hari yang datang hanya setahun sekali dan kenangan di hari itu hanya sekali terjadi dalam hidupku. Hari itu aku berniat untuk semangat bersekolah, namun ternyata tiba-tiba aku sakit dan aku harus pulang ke rumah. Saat aku menuju gerbang sekolah, aku bertemu Rafael dan teman-temannya. Dia mau menyapaku, namun aku tak melihatnya. Mungkin bisa dibilang itu senyuman terakhir Rafael yang seharusnya aku lihat namun aku memalingkan pandangan darinya, agar aku dapat melupakannya dengan indah, seindah kenangan aku dengannya, seindah cerita awal aku mengenalnya, seindah lukisannya di dalam hatiku…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar