Masih teringat senyuman pertama yang dia
berikan padaku saat seragam putih biru masih melekat di tubuh. Bibirnya
melengkung dengan manis saat bertatapan denganku. Aku hanya terpaku pada wajah
yang baru kulihat saat pertama aku mengenakan seragam itu. Matanya indah
sinarkan ketulusan. Santunnya ia menambah keindahan itu. Oh, siapakah gerangan
ia? Masih samar di mataku, masih asing di telingaku, masih jauh dari kata
mengenal.
Aku masih belum mengenal siapa
pria bermata indah itu. Walau rasa penasaran itu muncul, tapi tidak ada rasa
peduli untuk mencarinya. Tiap hari aku dan dia bertemu di kantin sekolah. Ingin
menyapanya, namun lidahkun kelu saat ingin mengucap kata. Ingin Tanya namanya,
tak bisa kuucap. Sekali lagi hanya senyum yang kuberi, walau tak semanis
senyuman pria itu.
Hari demi hari, bulan demi bulan
aku jalani di sekolah baruku. Masih belum mengenal siapa pria itu. Bertemu
dengannya pun sudah jarang malah tak sama sekali. Entah ia kemana? Aku tidak
begitu peduli. Ya, mungkin karena aku tak mengenalnya. Bahkan aku lupa
wajahnya, yang kuingat hanyalah mata dan senyumnya yang manis. Senyuman yang
tiba-tiba datang, dan tiba-tiba hilang.
Sekitar sebelas bulan aku
mengenakan seragam itu. Dan selang sebelas bulan juga aku melihat senyuman
seorang pria yang sangat manis. Tanpa disadari, saat aku mengikuti seleksi
pengurus OSIS, aku bertemu lagi dengan pria itu. Masih seperti dulu,
senyumannya masih manis, matanya masih indah. Dia duduk di belakangku. Dia
hanya diam tak banyak bicara. Aku pun memulai pembicaraan “hai, dari berapa?” tanyaku ,“dari 8A” ia
menjawab dengan suara yang begitu khas. Ternyata pria itu seniorku. Aku
diam-diam mempehatikan bet namanya yang menempel di seragam, namanya Rafael.
Setelah sebelas bulan baru aku mengetahui namanya.
Seminggu setelah aku mengetahui nama pria
bermata indah itu. Nama-nama pengurus OSIS baru pun diumumkan. Namaku dan
namanya tercantum pada kertas pengumuman itu, aku bahagia! Tiba-tiba terdengar
suara pria belakangku “wah, gw masuk!” spontan aku melihat siapa yang sedang
berdiri di belakangku,
“eh, ka?” sapaku singkat
“eh, de, eh kamu lolos OSIS ngga?” tanyanya.
“aku lolos kok ka”
“oh ya, nama kamu siapa sih?”
“aku Hana ka, kelas 7D”
“oh Hana, salam kenal ya, hehe”
Perkenalanku dengan pria itu memulai cerita
yang awalnya tak kusangka-sangka.
Makin hari makin akrab antara aku dan dia.
Setiap hari kami berhubungan melalui sms. Panggilannya padaku lain dari
teman-temanku yang sering memanggilku ‘na’ ketimbang ‘han’. Mungkin sudah hukum
alamnya jika seorang wanita akan jatuh cinta pada pria yang selalu ada
untuknya. Akhirnya hukum alam itu merasuki tubuhku, membuatku tak sadarkan diri
sehingga aku jatuh jauh ke dalam cinta nya Rafael.
Pendekatanku dengan Rafael berjalan dengan
sangat indah. Aku merasa nyaman ketika aku sedang berdua dengannya. Seakan
memiliki seorang ‘kakak’ lelaki yang senantiasa melindungi walau tak bisa
sering bersama. Tapi, entah mengapa , aku menjadi ragu dengan sikap Rafael,
mengapa begini? Apa aku hanya dianggap adik? Tapi dari situ dapat aku
simpulkan, bahwa Rafael adalah sosok kakak yang baik dan menyayangi adiknya.
Setiap aku ditimpa masalah, Rafael pasti menyemangatiku dan memberiku nasihat.
Sungguh sosok yang hampir sempurna di mataku.
Tak seperti biasanya, kali ini Rafael
mengajakku pulang bersamanya “han, mau pulang ngga?” aku sontak terkejut mendengar tawaran dari Rafael, “hm,
mungkin aku pulangnya agak sore ka, aku mau bareng sama teman” jawabku “oh yaudah, hati-hati ya Han” aku hanya
melihat bagian belakang tubuh Rafael, tegak, atletis, tinggi, sempurna. Tak
sadar ternyata Rafael telah menghilang dari pandanganku. Aku menghampiri
temanku, dengan malu aku ceritakan padanya tentang hal tadi, “ih na, kenapa lu ngga barenga sama ka Rafael aja? Cie
kaya nya bakal ada babak baru nih” ledek temanku. “apa sih Nia, dia Cuma
basa-basi aja ko” jawabku menutup rasa bahagia campur malu.
Tiga haris setelah kejadian itu. Benar kata Nia, ada babak baru, tepat salah tanggal tertentu di bulan november, aku dan Rafael memulai hari
baru, dengan status baru. Rasa sayangku padanya ternyata dirasakan juga oleh
Rafael. Dia membalas rasa itu dengan menjadikanku sebagai kekasih hatinya. Hari
itu sungguh menjadi hari yang tak akan pernah kulupakan seumur hidupku,
terutama seorang Rafael, kekasih sejatiku.
Kini hari-hari yang silih berganti aku lewati
bersama Rafael yang sudah berganti status sebagai kekasihku. Setiap hari aku
dan dia pulang bersama, sms, bahkan selalu bertemu dalam mimpi. Sebulan pertama
kami berpacaran masih sangatlah indah, namun badai itu datang saat aku sedang
sangat cinta pada Rafael.
Jalan dua bulan, hubunganku dengan Rafael
merenggang, memang salahku yang terlalu protek, namun aku lakukan itu karena
aku sayang padanya. Tapi sepertinya Rafael salah memahami apa yang kumaksud.
Sehingga cintaku digantung olehnya. Sakit! Dan rasa sakit ini kunikmati selama
dua bulan.
Mungkin memang aku dan Rafael tidak boleh
bersatu lagi, akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri kisah cintaku dengannya,
walau hati ini masih belum sepenuhnya ikhlas.
Hari-hari setelah berakhirnya kisah itu berbeda
dari sebelumnya. Tanpa Rafael, tanpa segalanya. Sepi, aku rasa sepi. Aku rasa
malas, aku sedih, aku rasa lemah, aku rasa galau. Benar-benar sebuah transisi
kehidupan yang sangat drastis. Aku butuh Rafael saat itu, tapi Rafael telah
pergi jauh dari kehidupanku.
Aku mencoba bangkit dan berusaha melupakan Rafael,
berusaha keluar dari kesedihan yang telah menepurukkanku hingga aku jatuh
kedalam lubang yang gelap. Aku terus berusaha untuk bangkit. Namun ternyata
banyak masalah yang menghalangiku untuk sampai ke atas. Sehingga di lubuk
hatiku yang paling dalam, aku berkata “aku butuh kamu saat ini,Fa, aku butuh
kamu!”
Kembali lagi nama Rafael masuk dalam pikiranku.
Selalu dan selalu nama pria itu terpikir olehku. Mata dan senyumannya terbayang
kembali, aku rindu padanya. Kenangan bersamanya selalu masuk kedalam benakku,
saat-saat bersamanya, semua tentang dia. Seakan kenangan itu telah paten melekat
dipikiranku, tak dapat dihapus sampai kapanpun.
**
Tidak terasa, sudah satu tahun aku melewati
masa-masa sulit, masa-masa melupakan Rafa, masa-masa mencoba keluar dan
menghapus semua kenangan bersama Rafael. Tak dirasa aku harus mengganti
seragama putih biruku dengan putih abu. Kurang lebih dua tahun aku mengenal
seorang Rafael. Tapi nama pria dengan senyumannya yang indah itu masih melekat
di hati. Entah apa yang membuatku seperti ini, aku terus membayangkan wajahnya
saat mengenakan seragam putih abu, aku rindu padanya.
Aku agak sedikit nekat untuk mendaftar ke SMA
yang sama dengan Rafael. Tetapi ternyata, aku masuk dan aku menjadi siswa barus
di SMA itu.
Hari pertama aku bertemu dengan Rafael. Aku
terkejut, dia masih seperti dulu, tidak ada yang berbeda dengan Rafael, masih
seperti dulu. Dia menyapaku saat pulang sekolah dengan suaranya yang masih
terngiang-ngiang di telingaku
“Han!”
“hai , ka”
“cie masuk SMA 8, kelas berapa?”
“X-4 ka”
“oh masuk ekskul apa?”
“aku masuk PMR ka”
“ih Han amah PMR mulu, haha”
“hehe yaudah aku pulang duluan ya
ka”
“iya hati-hati ya, Han”
Masih seperti dulu, masih..
Aku tak tahu mengapa aku menjadi lebih cemburu
disbanding saat aku masih memakai seragam putih biru. Melihat Rafael bersama
temannya saja rasa itu langsung merasuki tubuhku. Sampai-sampai aku menangis
hanya karena aku mendengar kalau Rafa sedang menyukai seseorang. Padahal Rafael
bukan siapa-siapaku lagi. Aneh, apa karena aku masih sayang padanya? Aku pun
masih belum bisa menafsirkannya.
Sekitar empat bulan setelah seragam putih abu
melekat, aku dan Rafael kembali dekat seperti dulu. Seakan aku dibawa ke masa
lalu oleh Rafael, masa-masa indah saat kami berpacaran, walau hanya sehari dan
setelah itu hilang lagi, kembali lagi, hingga akhirnya benar-benar hilang dalam
hidupku.
Lima bulan setelah aku dan Rafael kembali
dekat, aku mendengar kabar bahwa Rafael telah memiliki kekasih baru. Aku
terkejut! Seakan hati ini hancur berkeping-keping hingga tak berbentuk. Ragaku
benar-benar tak berdaya saat itu. Seakan tersambar halilintar, aku pun
menyadari ternyata Rafa yang selama ini masih aku harapkan telah berpaling ke
hati orang lain.
Memang bodohnya aku yang mengharapkan orang
yang tidak mengharapkanku! Menunggu orang yang tidak menungguku! Bodoh! Bodoh!
Bodoh! Kemana saja aku selama ini? Dua tahun aku buang dengan sia-sia, dengan
hasil yang nihil, dengan hasil hatiku kembali hancur! Sulit aku merakit hati
yang telah yang hancur dua tahun silam, tapi kini hati itu kembali hancur.
Harus berapa lama lagi waktu yang kuhabiskan untuk bangkit? Berapa lama? Aku
terus menyemangati diriku sendiri, demi hati ini cepat sembuh dari penyakit
lama. aku terus berusaha..
**
Empat bulan setelah Rafael berganti status dan
hidup orang baru di hatinya. Dan pada hari itu pun aku memulai hari baru di
kelas 2. Dengan semangat yang masih membara, aku tekadkan untuk ‘move on’ dari
Rafael. Tapi ternyata, sebelum aku benar-benar melupakannya, aku masih diberi
kesempatan untuk menikmati jalan barsama Rafael lagi. Setelah dua tahun
hubungan kami putus, barulah aku dan dia jalan bersama lagi. Canggung. Ya,
wajar memang aku rasa canggung, jalan dengan kekasih orang, ya itu judulnya.
Saat itu yang aku rasa amatlah aneh, rasa
canggung dan puas pun seakan beradu dalam hati. Tidak bermoral kupikir, namun
sisi lain aku bersyukur bisa merasakan hal itu kembali walau hanya sesaat,
sebentar dan tak terulang lagi dalam hidupku.
Namun kali ini aku harus benar-benar keluar
dari lingkaran masa laluku yang telah lama menjeratku dalam kesedihan.
Selama ini aku hanya membuang-buang waktu saja,
menikmati kesedihan, menjauhkan kebahagiaan. Seakan hidup ini indah dengan
kesedihan, dan merana dengan kebahagiaan. Semua yang wajar, semua yang
rasional, seakan tidak sejalan dengan semestinya. Semua menjadi irrasional.
**
Tiga tahun lamanya aku mengenal seorang Rafael.
Baik buruk, senang sedih, suka duka, aku alami dan aku lewati bersama Rafael
yang selalu ada di pikiran dan hatiku. Namun, kini aku benar-benar pergi dan
keluar dari kehidupan lawasku. Semua ini aku lakukan demi kebaikanku juga. Aku
tidak mau begini terus! Aku harus bangkit dan aku harus maju!
**
Beberapa hari sebelum tanggal itu terulang
untuk yang ke-3 kalinya. Saat ini kotaku dibahasi oleh air hujan. Dingin,
ditambah aku hanya sendiri dalam angkutan umum. Jalanan dekat sekolahku sedang
macet-macetnya, entah apa yang membuat jalan ini macet, tidak seperti biasanya.
Aku yang mulai jenuh pun melihat ke luar angkutan. Tiba-tiba aku melihat ada
dua orang siswa SMA yang sedang melintas, bercanda satu sama yang lain, entah
itu si pria mau si wanita, mereka begitu mesra. Terus aku pandangi sampai akhirnya
aku tersadar bahwa itu adalah Rafael dengan kekasihnya. Aku terkejut walau yang
kulihat adalah nyata. Seperti ditunjukan oleh Tuhan, aku melihat siapakah
kekasih Rafael sebelum aku benar-benar menjauh dan pergi dari kehidupannya,
masa lalu aku dan dia.
Sehari sebelum tanggal 21 yang ke-36, aku
bertemu Rafael di dekat ruang guru. Aku menyapanya ‘’hai Fa!’’ dia menyapaku
‘’hai Han’’ hanya seperti itu, tak lebih lagi.
November 20**, hari yang datang hanya
setahun sekali dan kenangan di hari itu hanya sekali terjadi dalam hidupku.
Hari itu aku berniat untuk semangat bersekolah, namun ternyata tiba-tiba aku
sakit dan aku harus pulang ke rumah. Saat aku menuju gerbang sekolah, aku
bertemu Rafael dan teman-temannya. Dia mau menyapaku, namun aku tak melihatnya.
Mungkin bisa dibilang itu senyuman terakhir Rafael yang seharusnya aku lihat
namun aku memalingkan pandangan darinya, agar aku dapat melupakannya dengan
indah, seindah kenangan aku dengannya, seindah cerita awal aku mengenalnya,
seindah lukisannya di dalam hatiku…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar