Sebelum manusia itu hadir dalam
hidupmu, seakan langit dan tanah yang kita injak bersatu karena tak ada
perbedaan. Sebelum manusia itu merusak akalmu, seakan air masih mengalir dari
hulu ke hilir karena berjalan sesuai keadaan. Sebelum manusia itu memasuki
lubuk hatimu, seakan hidup ini hanya ada karena kita, hanya aku dan kamu, hanya
milik sahabat yang kuharap kekal sampai raga dan tanah bersatu. Namun terlanjur
manusia itu merubah apa yang selama ini tertanam dalam banak dan hatiku.
Manusia tak diuntung! Manusia perusak! Seandainya kamu tidak hadirkan manusia
itu dalam hidupmu, mungkin saat ini aku masih menjadi sahabatmu.
Kurang jadinya hari-hari yang
kujalani tanpa kehadiranmu di sisi. Berrkurangnya juga rasa kepercayaanku padamu
yang terlanjur menyayat hatiku secara pelan-pelan. Di depanku kau berkata lain,
di belakangku kau berbuat lain. Mulailah nafas dan fikiran tak karuan,
menjadikan apa yang di hati berbeda dengan yang di lidah. Putar balikkanlah apa
yang seharusnya terjadi sesuai hatimu, kawan. Membuat siang jadi malam, timur
jadi barat, kanan jadi kiri, berantonim seperti aku dan kamu yang sudah tidak
bersinonim lagi. Tak seperti yang kuharapkan sebelumnya kawan, kali ini
benar-benar langit seakan runtuh dan menimpaku hingga tak sanggup kuangkat.
Terlalu berat kawan, kubutuh bantuanmu. Namun kau tak menampakkan wajahmu yang
cantik jelita itu di depan mataku.
Penyesalan selalu datang
menghiburku untuk membencimu kawan. Penyesalan itu hadir sebagai penengah yang
justru semakin menjauhkan kita dari titik nol menuju titik positif dan negatif.
Jujur aku tak mau menghakimi dirimu hanya masalah sepele yang dibuat oleh kita
sendiri, namun aku hanya ingin kau menyadarinya kawan, jalanmu salah. Walau
kadang ucapanku tak kau dengar, kalaupun kau dengar masuk ke si kanan dengan
cepat akan keluar melalui si kiri. Keasabaranku memang tiada batas kawan, namun
bukan kesabaranku yang habis, melainkan hatiku yang sudah terlalu lelah
menghadapi sikapmu yang semakin kesini semakin tak karuan.
Jika aku memutar kembali jarum
pada jam di dinding kamarku, aku selalu teringat pada kenangan-kenangan indah
yang telah kita ukir beberapa tahun silam, kawan. Waktu itu tak ada yang
memisahkan kita, tidak ada yang mengganggu persahabatan kita, tapi apa boleh
buat kawan, bumi sudah berotasi dan memutar keadaan. Aku hanya bisa tersenyum
dalam tangisku saat kenangan itu bertamu dalam pikiranku, tersenyum karena kamu
sahabat aku, telah menemukan kehidupan di dunia barunya.
from: JK
from: JK
Tidak ada komentar:
Posting Komentar