Jumat, 26 Desember 2014

Pesan Untuk Sahabat.


                Sebelum manusia itu hadir dalam hidupmu, seakan langit dan tanah yang kita injak bersatu karena tak ada perbedaan. Sebelum manusia itu merusak akalmu, seakan air masih mengalir dari hulu ke hilir karena berjalan sesuai keadaan. Sebelum manusia itu memasuki lubuk hatimu, seakan hidup ini hanya ada karena kita, hanya aku dan kamu, hanya milik sahabat yang kuharap kekal sampai raga dan tanah bersatu. Namun terlanjur manusia itu merubah apa yang selama ini tertanam dalam banak dan hatiku. Manusia tak diuntung! Manusia perusak! Seandainya kamu tidak hadirkan manusia itu dalam hidupmu, mungkin saat ini aku masih menjadi sahabatmu.
                Kurang jadinya hari-hari yang kujalani tanpa kehadiranmu di sisi. Berrkurangnya juga rasa kepercayaanku padamu yang terlanjur menyayat hatiku secara pelan-pelan. Di depanku kau berkata lain, di belakangku kau berbuat lain. Mulailah nafas dan fikiran tak karuan, menjadikan apa yang di hati berbeda dengan yang di lidah. Putar balikkanlah apa yang seharusnya terjadi sesuai hatimu, kawan. Membuat siang jadi malam, timur jadi barat, kanan jadi kiri, berantonim seperti aku dan kamu yang sudah tidak bersinonim lagi. Tak seperti yang kuharapkan sebelumnya kawan, kali ini benar-benar langit seakan runtuh dan menimpaku hingga tak sanggup kuangkat. Terlalu berat kawan, kubutuh bantuanmu. Namun kau tak menampakkan wajahmu yang cantik jelita itu di depan mataku.
                Penyesalan selalu datang menghiburku untuk membencimu kawan. Penyesalan itu hadir sebagai penengah yang justru semakin menjauhkan kita dari titik nol menuju titik positif dan negatif. Jujur aku tak mau menghakimi dirimu hanya masalah sepele yang dibuat oleh kita sendiri, namun aku hanya ingin kau menyadarinya kawan, jalanmu salah. Walau kadang ucapanku tak kau dengar, kalaupun kau dengar masuk ke si kanan dengan cepat akan keluar melalui si kiri. Keasabaranku memang tiada batas kawan, namun bukan kesabaranku yang habis, melainkan hatiku yang sudah terlalu lelah menghadapi sikapmu yang semakin kesini semakin tak karuan.
                Jika aku memutar kembali jarum pada jam di dinding kamarku, aku selalu teringat pada kenangan-kenangan indah yang telah kita ukir beberapa tahun silam, kawan. Waktu itu tak ada yang memisahkan kita, tidak ada yang mengganggu persahabatan kita, tapi apa boleh buat kawan, bumi sudah berotasi dan memutar keadaan. Aku hanya bisa tersenyum dalam tangisku saat kenangan itu bertamu dalam pikiranku, tersenyum karena kamu sahabat aku, telah menemukan kehidupan di dunia barunya.

from: JK

Tidak ada komentar:

Posting Komentar