Mentari menemani perjalanan Juri menuju
sekolah. Dengan semangat penuh ia melangkah. Angin pagi menyapanya dengan
ramah. Senyum di bibirnya terukir dengan indah.
Pagi itu di sekolah hanya ada kegiatan
classmeeting. Juri hanya duduk-duduk santai sendiri. Tak lama ia menikmatinya,
Zakuri menghampiri dan menyapa Juri, “hai Juri, sendiri aja?” dengan hangat
Juri menjawabnya, “hai, iya nih hehe kamu juga sendiri aja? Lihat Haruna
ngga?”. Zakuri sangat antusias menjawab pertanyaan Juri yang member harapan
bahwa Zakuri telah atau melihat Haruna, “Haruna ada di kantin. Yuk aku temani
ke sana”. Juri sangat beruntung ternyata Haruna sudah berada di sekolah.
Tiba di kantin, Juri melihat ada siswi yang
sendirian duduk dipojokan kantin. Siswi itu mirip Haruna, namun jika memang itu
Haruna, mengapa ia tidak memakai kacamata? Juri menghampiri siswi itu, semakin
dekat semakin jelas siapa gerangan. Ternyata itu benar Haruna! Juri terkejut
melihat penampilan Haruna yang tidak seperti biasanya, “Haruna?” tanya Juri
ragu dan terkejut, “hai Juri! Ya ampun dari tadi aku nungguin kamu. Kamu abis
dari mana?” tanya Haruna, ya memang ia Haruna, Haruna yang ceria dan penuh
semangat. Namun mengapa ia tampil beda? Biasanya ia berkacamata, rambutnya
diikat ponytail, dan Haruna yang Juri kini sangatlah berbeda, “ hm aku tadi di
depan. Kamu ko beda banget penampilannya?” tanya Juri agak canggung karena memang
kurang sopan, “oh hehe ngga apa-apa ko hehe eh iya Zakuri, Juri, mau main ke
rumah aku ngga? Ayo dong kita main” pinta Haruna penuh harap, “kalo aku mau mau
aja, gimana nih Juri? Mau ikut ngga?” tanya Zakuri. “ya, ok deh aku ikut” jawab
Juri, “yaudah kita berangkat sekarang aja yuk, lagian classmeet nya juga cuma
begitu-begitu aja” ajak Haruna. “ok”
Selama perjalanan ke rumah Haruna tidak ada
yang mengganjal sedikit pun. Mereka bertiga saling bercanda satu sama lain,
menikmati betapa indahnya hari di bawah sinar mentari. Namun tiba-tiba Haruna
menanyakan masalah Akihito kepada Juri, “Juri, bagaimana kamu dengan Akihito?”,
“ngga gimana-gimana?” jawab Juri singkat, “ah masa sih? Kamu sama dia udah
mulai pdkt?” desak Haruna kepada Juri. Dalam hati Juri merasa aneh dengan
tingkah Haruna, tidak seperti biasanya, atau hanya perasaan Juri saja? “kamu ko
pengen tau banget sih? Haha” ledek Juri yang sebetulnya ingin menghentikan
pertanyaan Haruna, “ya jelas dong, aku kan sahabat kamu, masa aku ngga boleh
tau tentang kamu sih? Hehe” ya itu jawaban yang diplomatis. Masih dengan
perasaan yang mengganjal, mereka sampai di rumah Haruna.
Rumah Haruna bersih dan barang-barangnya serba
mewah, berbeda dengan Juri yang sangat sederhana. Zakuri pun merasa bahwa
Haruna sangat beruntung memiliki rumah yang mewah, “ayo temen-temen masuk” ajak
Haruna kepada Juri dan Zakuri. Mereka mengikuti Haruna dan duduk di ruang tamu.
Tak lama, ibu Haruna datang dan menyapa mereka dengan dingin, “ini siapa? Temen
nya Haruna? Tunggu ya bentar, Haruna nya lagi cuci muka dulu”. Sebenarnya sudah
lama Juri bersahabat dengan Haruna, namun baru kali ini dia mengetahui sosok
keluarga sahabatnya itu. Amat sangat berbeda dengan sosok Haruna yang ramah
kepadanya. Juri dan Zakuri hanya berdiam diri dan seperti tidak dianggap di
rumah itu, seperti orang asing. Tak lama Haruna datang, “aduh maaf ya lama,
tadi bersihin muka dulu, ‘kan kotor ya tadi di jalan? Hehe”, “kamu perawatan
ya? Rajin amat?” tanya Zakuri polos, “engga ko engga hehe” tiba-tiba ibu Haruna
memotong pembicaraan, “ka, mama sama Haruka mau belanja dulu ya, kalo mau makan
ada tuh di dapur”, “ oh iya ma, hati-hati” cepat ibu Haruna pergi, tanpa
sedikit pun menyapa Juri dan Zakuri. “kalian, makan dulu yuk”, “ok” jawab Juri
dan Zakuri bersamaan.
Di meja makan, Haruna memberikan banyak nasi di
piring Juri dan Zakuri, tapi dia hanya memakan lauk nya saja, “kamu makan ngga
pake nasi nya?” lagi-lagi Zakuri bertanya dengan polos, “ ngga ah udah kenyang
hehe”. Selesai makan, Zakuri izin ke toilet. Juri dan Haruna duduk di ruang
tengah, “eh kamu, ceritain dong sama Akihito gimana?” tiba-tiba Haruna bertanya
pertanyaan itu lagi, “aku kan udah bilang ngga gimana-gimana, aku ngga pdkt,
aku ngga deket sama dia, udah gitu aja. Lagian aku cuman suka gitu aja ko sama
dia, ngga lebih, ngga kaya ke Kennichi” jawab Juri kesal dan terpaksa kembali
mengingat Kennichi, “udah Kennichi lupain aja, deketin dong Akihito nya”, “ngga
usah deh” jawab Juri singkat. “Haruna, kamu punya pembalut ngga? Aku dapet
nih”, “oh ada ko, ayo sini ke kamar aku” mereka berdua pergi ke kamar Haruna,
meninggalkan Juri sendiri dengan bayangan Kennichi yang kembali ke pikirannya.
Tak lama Haruna keluar dari kamarnya dan
meminta izin untuk ke luar sebentar, entah apa yang ia lakukan. Namun dengan
terkejut Juri melihat Zakuri di belakangnya dan langsung menarik Juri masuk ke
kamar Haruna, “Juri lihat, ini maksudnya apa?” Zakuri menunjuk tulisan di
kalender di kamar Haruna. Tulisan tersebut sangat mengejutkan Juri, membuat ia
tidak percaya dengan apa yang ia lihat, “Haruna and Akihito will be a perfect
couple? Maksudnya apa Zakuri?” tanya juri penuh emosi, “aku ngga tau, jujur aku
sendiri kaget” oh ini yang membuat Haruna penasaran dengan kedekatan Juri dan
Akihito, ternyata ia juga menyukai Akihito. Mengapa Haruna tidak jujur kepada
Juri? Mengapa ia sangat mendukung Juri untuk dekat Akihito? Apakah ia benar-benar
sahabat? Juri belum bisa memastikan semua ini…
to be continue
Tidak ada komentar:
Posting Komentar