1 Januari 2015,
00.00 WIB.
Malam yang beratapkan
bintang-bintang kini dihiasi dengan gemerlapnya warna kembang api dan mercon
dari gedung-gedung bertingkat sekitar rumahku. Benar-benar menggetarkan hati
suara-suara yang saling menyahut satu sama yang lain. Aku hanya kaku menatap
indahnya mercon-mercon itu, warnanya yang beragam membawaku ke dalam memori
2014. Tahun itu air mataku bagaikan air terjun yang terus menerus jatuh tak ada
hentinya. Seandainya aku boleh meminta dalam deru suara yang menggetarkan hati,
aku ingin 2015 ini menjadi tahun yang menghapus air mataku …
Hanya selang beberapa hari dari hari
pergantian tahun, aku sudah memulai kegiatan belajar di sekolah. Semester 4
atau semester 2 kelas 11. Di dalam hati aku sudah tekankan kalau semester ini
semangat belajarku harus lebih baik dari semester lalu, kurang lebih satu tahun
lagi statusku yang hanya sebagai ‘siswa’ akan menjadi ‘mahasiswa’.
Namun semua itu hanya ekspetasi belaka, aku tergoda
suasana SMA yang amat sangat indah. Malas, ngantuk,
bosan, menghantu di kepalaku. “seandainya guru kimia ini tidak mengajar lagi di
kelas ini, mungkin satu kelas bakal sujud
syukur” pikirku saat melihat guru kimia ‘tercinta’ sedang mengomel karena nilai
kimia teman-teman sekelasku tidak terlalu bagus, termasuk aku. Hanya bisa
berandai-andai dan pikiranku tidak ada di kelas, sampai aku tersadar kalau guru
itu menghampiri aku dan bertanya, “kamu nanti mau masuk kampus apa?” sontak aku
agak sedikit terkejut saat mendengar itu. Bodohnya dengan percaya diri tinggi
aku menjawab, “mau masuk teknik mesin ITB bu”, guru itu mengkerutkan dahinya
dan langsung tersenyum, “ari kamu mah hoyong
asup ka ITB tapi nilai kimia kamu teh meuni jarore pisan. Di ITB mah kudu rata-rata 88 keatas baru
bisa masuk, nah kamu baraha rata-ratana?” aku speechless, jujur saja aku bukan anak ranking satu di kelas, tapi
aku punya minat tinggi di bidang sains dan teknik. Dengan agak sedikit malu aku
menjawab “hanya 80 bu, hehehe” guru itu langsung meninggalkanku tanpa sepatah
katapun.
Masih di bulan yang sama, tepatnya tanggal 18 Januari.
Di Bogor sedang ada festival jepang yang setiap tahunnya selalu ramai. Aku
datang di hari kedua festival itu dengan temanku, Thesya, Evant, Icha, dan
Helmi. Bagiku festival ini akan menjadi hiburan untukku, sebelum aku
benar-benar memfokuskan diri untuk belajar. Tapi pada kenyataannya, aku bertemu
dengan seseorang yang membuat 2014 yang lalu menjadi kelabu, Qudrat dan
pacarnya. Sedikit cerita, aku dan Qudrat punya masa lalu yang sama, kami satu
SMP dan pernah memiliki hubungan. Namun hubungan itu tidak lama, salahnya di
aku karena aku yang memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan dengan dia.
Setelah dua tahun putus, aku yang masih ‘punya rasa’ sama dia dikejutkan dengan
kabar bahwa dia sudah punya pacar baru padahal saat itu aku dan dia sedang
‘PDKT (lagi)’. Hancur semua, makanya 2014 menjadi kelabu, tapi di festival ini
aku malah ketemu sama dia. Awalnya sih agak kurang nyaman, namun aku bawa
santai saja, “festival ini ‘kan buat
semua, bukan cuma buat lu Han. Slowkeun nyantai aja” gumamku.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar