Rabu, 30 Desember 2015

Lima Belas Ribu Pelangi (1)

1 Januari 2015, 00.00 WIB.
            Malam yang beratapkan bintang-bintang kini dihiasi dengan gemerlapnya warna kembang api dan mercon dari gedung-gedung bertingkat sekitar rumahku. Benar-benar menggetarkan hati suara-suara yang saling menyahut satu sama yang lain. Aku hanya kaku menatap indahnya mercon-mercon itu, warnanya yang beragam membawaku ke dalam memori 2014. Tahun itu air mataku bagaikan air terjun yang terus menerus jatuh tak ada hentinya. Seandainya aku boleh meminta dalam deru suara yang menggetarkan hati, aku ingin 2015 ini menjadi tahun yang menghapus air mataku …
            Hanya selang beberapa hari dari hari pergantian tahun, aku sudah memulai kegiatan belajar di sekolah. Semester 4 atau semester 2 kelas 11. Di dalam hati aku sudah tekankan kalau semester ini semangat belajarku harus lebih baik dari semester lalu, kurang lebih satu tahun lagi statusku yang hanya sebagai ‘siswa’ akan menjadi ‘mahasiswa’.
Namun semua itu hanya ekspetasi belaka, aku tergoda suasana SMA yang amat sangat indah. Malas, ngantuk, bosan, menghantu di kepalaku. “seandainya guru kimia ini tidak mengajar lagi di kelas ini, mungkin satu kelas bakal sujud syukur” pikirku saat melihat guru kimia ‘tercinta’ sedang mengomel karena nilai kimia teman-teman sekelasku tidak terlalu bagus, termasuk aku. Hanya bisa berandai-andai dan pikiranku tidak ada di kelas, sampai aku tersadar kalau guru itu menghampiri aku dan bertanya, “kamu nanti mau masuk kampus apa?” sontak aku agak sedikit terkejut saat mendengar itu. Bodohnya dengan percaya diri tinggi aku menjawab, “mau masuk teknik mesin ITB bu”, guru itu mengkerutkan dahinya dan langsung tersenyum, “ari kamu mah hoyong asup ka ITB tapi nilai kimia kamu teh meuni jarore pisan. Di ITB mah kudu rata-rata 88 keatas baru bisa masuk, nah kamu baraha rata-ratana?” aku speechless, jujur saja aku bukan anak ranking satu di kelas, tapi aku punya minat tinggi di bidang sains dan teknik. Dengan agak sedikit malu aku menjawab “hanya 80 bu, hehehe” guru itu langsung meninggalkanku tanpa sepatah katapun.
Masih di bulan yang sama, tepatnya tanggal 18 Januari. Di Bogor sedang ada festival jepang yang setiap tahunnya selalu ramai. Aku datang di hari kedua festival itu dengan temanku, Thesya, Evant, Icha, dan Helmi. Bagiku festival ini akan menjadi hiburan untukku, sebelum aku benar-benar memfokuskan diri untuk belajar. Tapi pada kenyataannya, aku bertemu dengan seseorang yang membuat 2014 yang lalu menjadi kelabu, Qudrat dan pacarnya. Sedikit cerita, aku dan Qudrat punya masa lalu yang sama, kami satu SMP dan pernah memiliki hubungan. Namun hubungan itu tidak lama, salahnya di aku karena aku yang memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan dengan dia. Setelah dua tahun putus, aku yang masih ‘punya rasa’ sama dia dikejutkan dengan kabar bahwa dia sudah punya pacar baru padahal saat itu aku dan dia sedang ‘PDKT (lagi)’. Hancur semua, makanya 2014 menjadi kelabu, tapi di festival ini aku malah ketemu sama dia. Awalnya sih agak kurang nyaman, namun aku bawa santai saja, “festival ini ‘kan buat semua, bukan cuma buat lu Han. Slowkeun nyantai aja” gumamku.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar