Februari, 2015.
Bulan yang ditunggu-tunggu olehku. Bulan penentuan
lolos atau tidaknya aku di ajang Olimpiade Sains Nasional 2015. Aku memilih
bidang matematika, walau sebelumnya aku semangat sekali mengikuti olimpiade
ini, tapi sayangnya H-7 sebelum hari lombanya, aku justru lagi malas-malasnya
buat belajar matematika. Akhirnya aku mencari cara alternatif untuk belajar
materi OSN ini, yaitu belajar dengan kakak kelasku yang pernah mengikuti OSN
Matematika, kak Andreansyah. Tapi sepertinya aku sedang ‘dicoba’, kak Andre
tidak bisa membantuku, Oh God…please help
me…
Sampai pada hari H nya, aku sangat semangat. Semua
rumus-rumus, konsep-konsep nya sudah nempel di otak. Pada saat upacara
pembukaan, aku melihat siswa dari sekolah lain namun sepertinya aku kenal siapa
dia. Dan benar, dia adalah teman SMPku, namanya Nia. Dia ada di barisan
kelompok OSN Kimia. Setelah selesai upacara, aku menyempatkan untuk
menghampirinya, “Nia? Ikut OSN apa?” tanyaku untuk basa basi, dia hanya
menjawab “kimia” sudah dan aku diabaikan begitu saja. Aku sudah tidak peduli
dan aku mencari di mana ruangan tempat aku lomba, tapi saat aku cari nama aku
tidak ada dan ini membuat aku panik sepanik-paniknya. Hopelesslah, semangat yang awalnya benar-benar tinggi kini hilang
seketika. Akhirnya dari panitia mengatakan kalau aku dan dua temanku yang tidak
kebagian ruangan digabungkan dengan peserta lain yang ‘bernasib’ sama.
Saat pengisian soal, kalau boleh jujur perjuangan
belajar kurang lebih empat bulan itu hilang seketika karena panik. Ya, sekedar
mengingatkan saja kalau kalian mau ikut lomba jangan panik dulu karena panik
itu bisa menghancurkan segalanya. Sesuai dengan yang ditanam yang dipetikpun
pasti sama, aku tidak lolos OSN itu, dan teman-teman dari sekolah tidak ada
satu pun yang lolos. Itu bukti dari solidaritas…
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar