Rabu, 30 Desember 2015

Lima Belas Ribu Pelangi (2)

Februari, 2015.
Bulan yang ditunggu-tunggu olehku. Bulan penentuan lolos atau tidaknya aku di ajang Olimpiade Sains Nasional 2015. Aku memilih bidang matematika, walau sebelumnya aku semangat sekali mengikuti olimpiade ini, tapi sayangnya H-7 sebelum hari lombanya, aku justru lagi malas-malasnya buat belajar matematika. Akhirnya aku mencari cara alternatif untuk belajar materi OSN ini, yaitu belajar dengan kakak kelasku yang pernah mengikuti OSN Matematika, kak Andreansyah. Tapi sepertinya aku sedang ‘dicoba’, kak Andre tidak bisa membantuku, Oh God…please help me…
Sampai pada hari H nya, aku sangat semangat. Semua rumus-rumus, konsep-konsep nya sudah nempel di otak. Pada saat upacara pembukaan, aku melihat siswa dari sekolah lain namun sepertinya aku kenal siapa dia. Dan benar, dia adalah teman SMPku, namanya Nia. Dia ada di barisan kelompok OSN Kimia. Setelah selesai upacara, aku menyempatkan untuk menghampirinya, “Nia? Ikut OSN apa?” tanyaku untuk basa basi, dia hanya menjawab “kimia” sudah dan aku diabaikan begitu saja. Aku sudah tidak peduli dan aku mencari di mana ruangan tempat aku lomba, tapi saat aku cari nama aku tidak ada dan ini membuat aku panik sepanik-paniknya. Hopelesslah, semangat yang awalnya benar-benar tinggi kini hilang seketika. Akhirnya dari panitia mengatakan kalau aku dan dua temanku yang tidak kebagian ruangan digabungkan dengan peserta lain yang ‘bernasib’ sama.
Saat pengisian soal, kalau boleh jujur perjuangan belajar kurang lebih empat bulan itu hilang seketika karena panik. Ya, sekedar mengingatkan saja kalau kalian mau ikut lomba jangan panik dulu karena panik itu bisa menghancurkan segalanya. Sesuai dengan yang ditanam yang dipetikpun pasti sama, aku tidak lolos OSN itu, dan teman-teman dari sekolah tidak ada satu pun yang lolos. Itu bukti dari solidaritas…

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar