Rabu, 30 Desember 2015

Lima Belas Ribu Pelangi (3)

Maret-April 2015.
Bulan-bulan sebelumnya waktuku seakan sedikit sekali hingga tidak ada satu detikpun yang bisa aku gunakan untuk bertemu dan bermain dengan sahabatku, Tina. Namun kali ini aku meluangkan waktu untuk melepas rindu kepadanya sebelum aku melaksanakan UTS. Seperti sudah bertahun-tahun aku tidak bertemu dengannya, hingga saat bertemu seakan dunia hanya milik aku dan dia (ini berlebihan). Kami bercerita ngulur ngidul satu sama yang lain. Sampai pada akhirnya dia bertanya tentang aku dan Moni, sahabat yang sedang memiliki masalah denganku, “Han si Moni gimana di sekolah?”, “ngga gimana-gimana, dia barengan terus sama si Adi” jawabku seadanya.
Awalnya hubungan aku dengan Moni baik-baik saja, kami bersahabat sejak SMP. Namun semenjak masuk SMA, Moni mengalami perubahan yang amat sangat drastis namun negatif. Salah satunya dia lebih sering ‘berpacaran’ daripada belajar. Awalnya aku bisa memaklumi mungkin karena dia baru merasakan ‘apa itu pacaran?’ dan merasa kalau ‘gue anak SMA’. Tapi semakin aku biarkan seperti itu, tingkah pacarannya semakin aneh dan semakin ‘liar’. Aku sebagai sahabatnya mencoba untuk melarang dia, namun yang terjadi dia hanya menganggapku sebagai angin lalu saja, didengar dan dirasa namun tidak digubris. Masalah ini yang menjadi cikal bakal dari masalah aku dengan Tina.
Selang beberapa minggu setelah ‘jumpa kangen’ aku dengan Tina, ada masalah yang dikompori oleh Moni. Tina yang selama ini menjadi ‘tempat netral’ malah berbalik menjadi ‘tempat pembela’ bagi Moni. Bagi Tina, apa yang aku ceritakan kepadanya tentang Moni itu bohong, aku dianggap ‘teman palsu’ dan tidak mendukung hubungan Moni dengan Adi. Bagaimana aku mau mendukung kalau yang mereka lakukan itu dilarang oleh agama? Apalagi hubungan mereka yang sudah berlebihan, sangat berlebihan. Memang ini bukan urusanku, namun aku tersangkut dalam hubungan mereka karena Moni adalah sahabatku.
Akhirnya tanpa disangka dan dikira sebelumnya, persahabatanku dengan mereka hancur hanya karena masalah sepele. Aku mencoba untuk biasa-biasa saja menghadapi masalah ini, walau sebetulnya dalam hatiku ‘aku tidak kuat tanpa mereka’…
Akhir April aku datang ke acara Mata Najwa on Stage Universitas Indonesia. Ini adalah pengalaman baru untukku. Pertama kali aku datang ke Balairung UI, ya, untuk siswa SMA yang jarang sekali keluar rumah, ini adalah pengalaman luar biasa bagiku. Walau sebelumnya aku sudah pernah datang ke UI dengan kakak kelasku untuk mengikuti seminar sastra Indonesia, tapi kali ini aku benar-benar ‘parno’.
Saat itu suasana balairung masih sepi, ya, aku datang pukul 9:00 WIB. Padahal acara dimulai pukul 13:00 WIB. Sekitar balairung dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswa yang mayoritas adalah mahasiswa UI.  Namun sepertinya hanya aku yang masih SMA di situ. Dan aku harus menunggu kurang lebih tiga jam untuk dapat masuk ke balairungnya. Dan akhirnya, pukul 13:00, aku diperbolehkan masuk ke balairung, namun acara baru dimulai pukul 14:00 WIB. Benar-benar aku tidak sabar menanti acara ini untuk dimulai. Tidak lama kemudian acara dimulai dan seorang Najwa Shihab pun masuk ke dalam gedung balairung. Sontak para penonton bersorak melihat Najwa Shihab dengan mata kepala sendiri. Namun yang menjadi luar biasa adalah ketika bisa melihat secara langsung sosok tokoh terjenius milik Indonesia, yaitu Bacharudin Jusuf Habibie.
Acaranya berlangsung dengan lancar dan sangat berkesan bagiku, amat berkesan. Karena setiap kata-kata dari B.J Habibie menyentuh dan menyemangtiku untuk ‘fokus!’ dalam suatu bidang yang kita minati.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar